News Day

Loading...

Papan Iklan

Jumat, 05 Februari 2010

PEMIMPIN YANG MERAKYAT

Indonesia saat ini sangat mendambakan pemimpin yang mengerti, membela dan melindungi rakyatnya. Saya sering dengan pembicaraan ditengah rakyat yang dibilang orang sebagai kelas kuli di pinggir jalan, meraka kebanyakkan sudah bosan tentang masalah yang katanya itu-itu saja. Yaitu inti dari masalah yang semarak di media baik cetak maupun elektronik tiada lain dari perebutan kekuasaan, uang dan lagi-lagi atas nama politik.Yang dimauin sama rakyat sederhana, asal bisa hidup nyaman mereka sudah tenang. Memang susah cari pemimpin yang merakyat, amanah, bijaksana, dan berani. Dahulu ada sebuah cerita dimana seorang raja menjadi tukang kebun. Berikut saya tengahkan sedikit penggalan ceritanya.


RAJA YANG RELA MENJADI TUKANG KEBUN

Ibrahim bin Adham adalah seorang raja yang sangat besar kekuasaannya. Oleh karena kehidupan yang mewah dan serba cukup tidak membawa ketenangan kepada jiwanya, baginda akhirnya memilih untuk hidup sebagai rakyat biasa dengan mengambil upah sebagai tukang kebun. Kebun yang dijaga oleh baginda itu adalah kebun buah delima. Ia menjaga kebun itu dengan patuh dan rajin. Suatu hari datanglah tuan kebun itu dan meminta Ibrahim membawakan sebiji delima yang masak lagi manis kepadanya. Ibrahim pun segera ke pohon-pohon delima untuk mencari buah delima yang paling masak. Ketika tuannya merasakan buah delima tersebut, air mukanya berubah. Kemudian berkata: "Wahai Ibrahim tolong bawakan kepada aku sebiji delima yang lebih manis." Sekali lagi Ibrahim pergi mencari buah delima yang lain tanpa mengetahui mengapa tuannya itu menyuruh dia membawakan sebiji lagi. Setelah buah yang diberikan kepada tuannya itu dimakan, dengan sepontan buah itu dibuang oleh tuannya itu. Oleh kerana sangat marah sebab buah yang dimakannya itu masih masam, ia pun berkata dengan suara yang keras: "Wahai Ibrahim! Hairan sekali aku melihat engkau. Sudah begitu lama engkau menjaga kebunku, tidakkah engkau tahu yang masam dan manis?" Lalu jawab Ibrahim dengan suara yang lemah dan sopan: "Tuan, bukankah saya ini diamanahkan untuk menjaga kebun supaya sentiasa subur dengan buah-buahan, tetapi tuan tidak memberi keizinan kepada saya merasa buahnya." Betapa terkejutnya tuannya itu apabila mendengar jawapan tersebut. Tidak terduga sama sekali akan besarnya sifat amanah yang ada pada tukang kebunnya itu.

0 komentar:

Poskan Komentar